A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: DOMDocument::load(): Document is empty in /home/admcbn/public_html/jawaban_ask.xml, line: 1

Filename: core/MY_Controller.php

Line Number: 303

Pahitnya Pengkhianatan
Pahitnya Pengkhianatan
Kalangan Sendiri

Pahitnya Pengkhianatan

Lori Official Writer
      105

Matius 26:47–50 

"Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: "Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia." Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: "Salam Rabi," lalu mencium Dia. Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Hai teman, untuk itukah engkau datang?" Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya." 

 

Malam itu di Taman Getsemani, Yesus baru selesai bergumul dalam doa yang paling berat dalam hidup-Nya. Lalu terdengarlah langkah kaki — dan di barisan terdepan muncul wajah yang sangat Ia kenal. Yudas. Salah satu dari dua belas murid-Nya. Seseorang yang telah makan semeja, berjalan bersama, dan menyaksikan setiap mukjizat-Nya. 

"Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.” (Matius 26: 47) 

Yudas maju, menyapa, lalu mencium Yesus. Ciuman yang seharusnya menjadi tanda hormat dan kasih, malam itu dijadikan senjata pengkhianatan. Ia telah menjual Yesus kepada para imam kepala dengan harga tiga puluh keping perak — harga seorang budak. Dan isyarat yang disepakati untuk mengidentifikasi Yesus adalah sebuah ciuman. Tidak ada luka yang lebih dalam daripada pengkhianatan yang datang dari orang yang kita kasihi dan percayai. 

Namun perhatikan bagaimana Yesus merespons. Di hadapan pengkhianatan paling pahit dalam sejarah manusia, Ia tidak membalas dengan amarah. Ia memandang Yudas dan berkata: "Hai teman, untuk itukah engkau datang?" Satu kata yang menggetarkan — teman. Bukan pengkhianat, bukan penipu. Dengan kata itu tersimpan kasih yang tak tergoyahkan dan tawaran terakhir untuk bertobat. Yesus memilih kasih karunia, bahkan di tengah luka yang paling menyayat. 

Pernahkah kita dikhianati oleh seseorang yang kita percaya — sahabat, keluarga, atau saudara seiman? Rasa sakitnya pasti terlalu berat untuk diungkapkan. Tetapi Yesus mengajak kita untuk memilih jalan yang sama dengan yang Ia tempuh: mengampuni, bukan membalas. Ia tidak membiarkan pengkhianatan Yudas menghalangi-Nya dari misi penyelamatan dunia. Dan kita pun dipanggil untuk tidak membiarkan kepahitan menghalangi kita dari rencana Allah. 

Di minggu menjelang Paskah ini, mari mengambil waktu untuk merefleksi hari-hari terakhir yang Yesus hadapi sebelum menuju Salib. Pilihan Yesus untuk menanggung semua kepahitan, termasuk pengkhianatan dari orang terdekat-Nya adalah pengingat yang mendalam tentang mahalnya harga kasih karunia. Teladan kasih ini harusnya menjadi bahan bakar supaya kita memandang kehidupan karena Kristus - mengampuni orang lain seperti Kristus mengampuni kita, dan memilih kasih karunia daripada balas dendam.  

Ambil waktu beberapa menit ke depan untuk merenungkan bagaimana kita hidup selama ini. Apakah ada hal yang perlu kita ubah? Mari ucapkan doa dengan keras dihadapan Tuhan: 

"Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mengerti pahitnya dikhianati. Ajarkan aku untuk mengampuni mereka yang telah menyakitiku, sebagaimana Engkau mengampuni aku. Jauhkan aku dari kepahitan, dan pimpinlah hatiku untuk memilih kasih karunia seperti yang Engkau teladankan. Amin." 

Ikuti Kami